Sekelebat

Usia Legenda

bw

Potret diri karya Mas Pur dan coretan estetis karya tangan sendiri.

JANIS Joplin. Jimi Hendrix. Jim Morrison. Brian Jones. Robert Johnson. Kurt Cobain. Amy Winehouse. Selain musik, yang menyatukan mereka adalah Club 27. Sudah lama benar saya membaca konspirasi satu ini. Namun, tidak pernah mengambil berat sampai Yogie, pada sebuah malam, menjabat tangan saya dan berucap, “Selamat menyambut usia legenda.”

Yogie sendiri usianya sudah 31. Empat tahun yang lalu, ia pernah tiba di usia legenda. Oleh teman-temannya, ia juga diberi ucapan yang sama, yang kemudian kini diteruskan kepada saya. “Seram, Wai, masuk usia legenda,” ucapnya. “Di usia ini, jangan buat sesuatu yang hebat-hebat kali. Nanti kau jadi legenda!”

Bangsat!

Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
Esai

Ya Tuhan, Saya Pengin Sepatu Vans

lead-1208-vansendclothingcollection-1544118202

Cantik klasik sekali, ‘kan?

BAGAIMANA? Tahun 2018 sudah tinggal hari ini dan besok. Apakah seluruh daftar keinginan sepanjang tahun sudah tuntas? Kalau belum, jangan sedih. Anda tidak sendiri. Lagi pun, jikalau keinginan-keinginan belum terkabul itu bukan sebuah aib. Kata orang bijak, manusia memang cuma bisa merencanakan. Sisanya, terserah Tuhan.

Sekali lagi, jangan larut dalam kesedihan karena gagal menuntaskan resolusi sepanjang tahun. Keberhasilan hidup, Anda tahu, tidak hanya diatur berdasarkan jumlah centang perenang yang tertera di sana. Semisal, Anda sebenarnya menginginkan menikah tahun ini. Tetapi, sampai H-2 pergantian tahun, hilal jodoh belum lagi tampak. Mari berprasangka baik jikalau Tuhan sebenarnya sedang menyiapkan jodoh yang paling tepat, paling pas, paling mengisi, untuk sepanjang hidup Anda. Jika pada tahun ini pula Anda putus cinta, ya bisa jadi memang dia bisanya bahagia dengan orang lain, dan bukan Anda. Terima saja, walau perih rasanya, Ferguso! Kata orang bijak, Tuhan tidak pernah meletakkan kesedihan bagi manusia, tanpa merencanakan kebahagiaan setelahnya. Baca lebih lanjut

Standar
Puisi

Jealous Laksamana

                                         : Lennon x Tuah

Aku gagal tidur lelap
pada malam yang lindap
takut dan sesal berebut
selinap. Pengap.

Seberapa andal maaf bekerja
pada kesalahan yang
tak pernah diniatkan?

Bukan maksudku
melukaimu
Bukan hasratku
membunuhmu

Aku hanya seorang laksamana
yang kehilangan kuda-kuda
Aku hanya seorang pencemburu
yang lengah membaca waktu

kemarin yang takkan kembali
esok yang kian tak pasti

Aku menggigil
Aku mengigau

Tak habis-habis
Tak sudah-sudah

Standar
Esai

James-Della vs. Vicky-Lelga

ilustrasi jerumat

Grebekisasi, 2018.

SAYA suka menonton video Vicky Prasetyo menggerebek rumah istrinya, Angel Lelga. Saya bahkan perlu mengulangnya sampai sembilan kali. Video berdurasi sebelas menit lebih sedikit itu rupanya tidak sesampah yang saya duga sebelumnya.

Setiap kali menatap layar, saya merasakan ketegangan seorang suami dalam menit-menit memergoki istrinya berduaan dengan laki-laki lain. Termasuk aksi Paduka Vicky melompati pagar. Sungguh indah. Saya kira, beliau bisa mendaftar sebagai atlet untuk persiapan Asian Games mendatang di Tokyo. Lebih baik menyumbang medali ketimbang terus-terusan menyuguhkan sensasi. Baca lebih lanjut

Standar
Esai

Utang Budi Dibawa Stan Lee

Stan Lee

Stan Lee (1922-2018). / Geeky Reporter

KEMATIAN seorang tokoh akan diikuti dua hal yang sekonyong-konyong bertayangan di linimasa kita: pertama, ungkapan perasaan duka dari setiap orang yang mengenalnya; dan kedua, kutipan-kutipan bernas yang pernah disampaikan mendiang semasa hidupnya. Hal ini pula yang hadir ketika komikus Stan Lee berpulang pada 12 November lalu.

Kepergian pria 95 tahun ini lantas memicu kedukaan seantero dunia. Apatah tidak. Dari dalam kepalanya itu telah hadir ratusan hero super yang menjadi idola penduduk bumi. Saya kira hanya akan memperpanjang artikel ini bila menyebutkan daftar pahlawan super rekaan Stan Lee.

Anda tahu The Avengers yang fenomenalnya tidak akan pernah ditandingi film Ahok dan Hanum itu? Ya itulah hasil kreativitas Stan Lee semasa hidupnya. Karenanya, tak heran jika dalam hitungan menit saja jagat maya geger dan wira-wiri tagar #RIPStanLee dan bukan tagar ala-ala #2019 yang bikin jelak tekak. Baca lebih lanjut

Standar
Esai

Sebentuk Oase: #FindingNenek

FINDINGNENEK

TIDUR saya Kamis malam kemarin sedikit terganggu. Telah masuk sebuah rekomendasi untuk lekas menonton video berdurasi 25 menit 58 detik. Itu durasi yang lumayan untuk menyedot paket data dengan durasi lama dan kualitas tinggi di YouTube. Karena tidak mau kuota internet saya terumbar sia-sia, saya bertanya kepada pemberi rekomendasi, “sebutkan satu alasan saja yang membuat kamu meminta saya menonton video ini?”

Anda tahu, jenis pertanyaan di atas retoris belaka. Sebab, kepada orang dengan selera di atas rata-rata, sebuah saran atas sesuatu itu sudah ditimbang kecakapannya. Kita tinggal melakukannya dan menyerap sendiri suatu manfaat yang diperoleh. Tetapi, bermain-main sedikit bukan suatu permasalahan.

“Kamu akan menyukai caranya bercerita,” jawab si pemberi rekomendasi. Selain makanan olahan telur, cerita adalah sesuatu yang saya gemari. Mau itu lewat tulisan, audio, atau visual. Saya percaya kemampuan bercerita adalah satu di antara yang membedakan antara kita dengan hewan. Sebagai penjual ayam potong, Bapak saya selalu kedatangan puluhan ayam setiap harinya dan belum sekali saya mendengar mereka saling bercakap dan bercerita tentang perasaannya sebelum dihadapkan pada sebilah pisau tajam.

“Dan satu petunjuk lagi,” sambung si pemberi rekomendasi, “cerita ini adalah tentang identitas.” Saya membalasnya dengan kelewat santai: kisah pembuatan KTP. Tidak ada jawaban lagi. “Tonton saja. Setelahnya, katakan pada saya kesan apa yang kamu dapat dari video itu.” Baca lebih lanjut

Standar
Puisi

Perdebatan Kita

Kita masih saja berdebat: 
apakah pupuk yang kautabur saban pagi 
atau kencingku yang terbirit tiap malam
yang menyuburkan bunga-bunga 
di halaman. 

Kita terus memperdebatkan:
apakah deterjen yang kautuang sebelum merendam
atau kucekan yang kukencangkan ketika mencuci
yang membersihkan noda-noda
di pakaian. 

Debat kita masih sama: 
apakah protagonis yang kaupuja sejak awal
atau antagonis yang kuingat hingga akhir
yang menggerakkan cerita-cerita
di layar kaca. 

Perdebatan kita belum usai:
apakah Tuah yang kaubaca sedari muda
atau Jebat yang kukaji kala dewasa
yang menerjemahkan sumpah-setia
di kerajaan. 

Debat baru di antara kita:
apakah pahala yang kauharap tiap salat
atau dosa yang kusesali tiap saat
yang memberatkan timbangan 
di hari penghitungan. 

2018.

Standar